MAGELANG, 14 Des 2025 – Komitmen MI Muhammadiyah Tirtosari di Sawangan, Magelang, untuk mencetak generasi yang unggul kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan kajian selapanan akbar. Acara yang diadakan secara rutin setiap 35 hari sekali ini berlangsung sukses dan khidmat, dihadiri oleh seluruh wali murid dari kelas 1 hingga kelas 6. Bertempat di lingkungan sekolah, kegiatan ini bertujuan utama untuk menguatkan kolaborasi antara pihak sekolah dengan keluarga siswa.

​Pembukaan acara diawali dengan sambutan inspiratif dari Kepala Sekolah MI Muhammadiyah Tirtosari, Ibu Chusnul Chotimah. Dalam sesinya, beliau memberikan arahan, pembinaan, dan penegasan mengenai urgensi sinergi yang kuat antara guru dan wali murid. Beliau menekankan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama, dan tanpa komunikasi serta kerja sama yang harmonis, upaya sekolah tidak akan maksimal. “Sinergi yang solid adalah kunci emas untuk memastikan anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan berprestasi,” tegasnya.

​Inti dari kegiatan selapanan kali ini adalah kajian utama yang disampaikan oleh narasumber kredibel, Bapak Atto’ Maulana, M.Pd. Kehadiran beliau sebagai dosen dari Fakultas Agama Islam (FAI) UNIMMA atau Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menjadi nilai tambah yang signifikan, memastikan materi yang disampaikan berlandaskan ilmu agama dan pedagogi yang kuat. Topik kajian yang dibawakan adalah “Mendidik Generasi Terbaik.”
​Dalam paparannya, Atto’ Maulana, M.Pd. membawa peserta pada perenungan mendalam mengenai visi pendidikan dalam Islam. Beliau mengawali dengan mengupas tuntas pesan utama dari Qs. An-Nisa (4): 9. Ayat ini, jelas beliau, memberikan perintah tegas kepada umat Islam untuk senantiasa khawatir dan berupaya keras agar tidak meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah—lemah dalam akidah, ilmu, akhlak, maupun kemandirian ekonomi.

​Selanjutnya, materi diperkaya dengan telaah terhadap Qs. Ali Imron (3): 110, yang menjabarkan karakteristik khaira ummah atau generasi terbaik. Menurut pemateri, karakteristik ini harus menjadi cetak biru dalam mendidik anak-anak di lingkungan MI Muhammadiyah Tirtosari. Beliau merangkum kiat-kiat mendidik yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, meliputi tiga poin penting: pertama, wajibnya bertawakkal kepada Allah sebagai sandaran utama setelah semua ikhtiar maksimal dilakukan; kedua, pentingnya menjaga lisan dan menggunakan perkataan yang baik (qoulan ma’rufan) dalam setiap interaksi, baik di rumah maupun di sekolah, demi merawat hubungan yang harmonis; dan ketiga, fokus pada pembentukan karakter sesuai ciri-ciri generasi terbaik.

​Kajian ini tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga sangat aplikatif. Pemateri turut membahas tantangan kontemporer, seperti fenomena gap generasi yang sering terjadi antara orang tua dan anak-anak usia sekolah dasar (kelas 1-6) saat ini. Beliau memaparkan fenomena khas anak-anak di era digital ini dan memberikan kiat-kiat mendidik yang relevan, terutama dengan menjadikan teladan utama dari orang tua dan guru sebagai metode pendidikan yang paling efektif dan membekas. Kehadiran Bapak Atto’ Maulana dari FAI UNIMMA ini diharapkan mampu memberikan perspektif pendidikan yang lebih luas bagi para wali murid.

​Acara kajian selapanan yang diinisiasi oleh MI Muhammadiyah Tirtosari ini menegaskan peran sekolah sebagai pusat pembinaan, bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi para wali murid. Melalui kegiatan ini, diharapkan terbentuk keluarga yang kuat, sejalan dengan visi sekolah, dalam menyiapkan anak-anak sebagai generasi emas bangsa.