TEMANGGUNG – Di penghujung tahun 2025, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat karakter dan spiritualitas mahasiswa. Sebanyak 59 mahasiswa semester I Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Hukum Ekonomi Syari’ah (HES) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) FAI UNIMMA mengikuti kegiatan “Pesantren Mahasiswa” yang berlangsung selama empat hari, mulai Rabu hingga Sabtu, 24-27 Desember 2025. Kegiatan intensif ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah, Tembarak, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ponpes Almatera, Temanggung.
Mengusung tema strategis “Menjadi Mahasantri yang Relevan di Era Disrupsi”, agenda ini bertujuan untuk membekali para mahasiswa dengan ketahanan mental dan spiritual di tengah arus perubahan zaman yang serba cepat. Di era di mana teknologi dan informasi berkembang sangat dinamis, Fakultas Agama Islam memandang bahwa penguasaan akademik di kampus harus diimbangi dengan akar nilai keislaman yang kuat melalui pengalaman kepesantrenan yang nyata.
Dekan FAI UNIMMA, Eko Kurniasih Pratiwi, S.E.I., M.S.I., menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari visi besar universitas dalam menghasilkan lulusan yang unggul. “Kegiatan pesantren ini menjadi komitmen bersama antara dua lembaga, yaitu FAI UNIMMA dan Almatera, untuk mengembangkan pendidikan Islam yang utuh dan berkemajuan,” tuturnya. Beliau menambahkan bahwa sinergi ini diharapkan mampu menjembatani dunia akademik dengan tradisi intelektual pesantren yang disiplin dan penuh nilai-nilai luhur.
Selama menetap di Ponpes Almatera, mahasiswa FAI UNIMMA menjalani berbagai aktivitas yang dirancang untuk mengasah kemandirian. Mulai dari praktik ibadah yang disiplin, pendalaman materi keagamaan, hingga diskusi mengenai isu-isu kontemporer. Wakil Pimpinan Ponpes Almatera, Suradin, S.Ag., dalam penyampaiannya menekankan betapa pentingnya pengalaman hidup di pesantren bagi masa depan mahasiswa. “Pesantren menjadi miniatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pengalaman pesantren menjadi kawah chandradimuka bagi calon-calon pemimpin bangsa,” tegasnya.
Capaian atau output utama dari kegiatan ini bukan sekadar pemahaman teoretis, melainkan penguasaan soft skill dan pembentukan pribadi yang memiliki akhlaqul karimah. Para mahasiswa diharapkan membawa pulang pengalaman kepesantrenan ini ke dalam kehidupan sehari-hari sebagai pondasi dalam menghadapi tantangan era disrupsi. Integritas moral yang terbentuk di pesantren diharapkan menjadi pembeda utama bagi lulusan Universitas Muhammadiyah Magelang saat terjun ke masyarakat nantinya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi aktif peserta, pada penghujung acara diumumkan beberapa mahasiswa yang menunjukkan performa luar biasa. Gelar Peserta Terbaik Putri diberikan kepada Nidaul Hidayah (mahasiswi PGMI), sementara Badrid Duja (mahasiswa HES) dinobatkan sebagai Peserta Terbaik Putra. Selain itu, predikat Peserta Teladan berhasil diraih oleh Wawan Setiawan (mahasiswa HES) atas dedikasi dan kedisiplinan yang ditunjukkan selama kegiatan berlangsung.
Penutupan kegiatan pada hari Sabtu menandai selesainya masa “nyantri” singkat namun penuh makna bagi mahasiswa FAI UNIMMA. Dengan berakhirnya Pesantren Mahasiswa ini, Fakultas Agama Islam berharap para peserta kembali ke kampus dengan semangat baru, menjadi mahasantri yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh dan relevan bagi kemajuan umat dan bangsa.